Artikel

Silaturahmi: Kunci Keberkahan Hidup dan Kekuatan Persaudaraan

20 June 2026 Admin Az Zaimah

Oleh: Ridwan Syafrullah,S.E Malin Mangkuto

Silaturahmi: Kunci Keberkahan Hidup dan Kekuatan Persaudaraan

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, tidak sedikit orang yang tanpa sadar mulai menjauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Kesibukan pekerjaan, urusan pribadi, bahkan kesalahpahaman kecil sering kali menjadi alasan renggangnya hubungan yang dahulu begitu dekat. Padahal, dalam Islam, menjaga silaturahmi merupakan salah satu amalan yang memiliki kedudukan sangat mulia dan menjadi bagian dari akhlak seorang mukmin.

Silaturahmi bukan sekadar tradisi saling berkunjung saat hari raya atau menghadiri acara keluarga. Lebih dari itu, silaturahmi adalah upaya menjaga hubungan baik, mempererat kasih sayang, serta menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Melalui silaturahmi, hati yang sempat berjauhan dapat kembali dekat, perselisihan dapat diselesaikan, dan persaudaraan dapat semakin kuat.

Islam mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT. Bahkan, menjaga silaturahmi termasuk amalan yang mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Rasulullah ? bersabda:

"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya mendatangkan pahala di akhirat, tetapi juga membawa keberkahan di dunia. Rezeki menjadi lebih luas, kehidupan menjadi lebih bermakna, dan hubungan sosial menjadi lebih harmonis. Banyak orang yang merasakan bahwa pertolongan dan kemudahan hidup sering kali datang melalui hubungan baik yang terjalin dengan keluarga dan sesama.

Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras kepada mereka yang memutus tali silaturahmi. Rasulullah ? bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat bukanlah perkara sepele. Memutus hubungan karena ego, dendam, atau persoalan duniawi dapat menghilangkan keberkahan dan merusak persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Yang menarik, Islam tidak mengajarkan silaturahmi hanya kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Rasulullah ? menjelaskan bahwa orang yang benar-benar menyambung silaturahmi adalah mereka yang tetap berusaha menjalin hubungan meskipun hubungan tersebut diputus oleh pihak lain. Beliau bersabda:

"Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang tetap menyambung hubungan ketika hubungan itu diputus oleh kerabatnya."

(HR. Bukhari)

Inilah bentuk kemuliaan akhlak yang diajarkan Islam. Seorang muslim tidak menunggu orang lain memulai, tetapi berinisiatif untuk memperbaiki hubungan, memaafkan kesalahan, dan mengedepankan persaudaraan daripada ego pribadi.

Di era digital saat ini, menjaga silaturahmi sebenarnya menjadi lebih mudah. Teknologi memungkinkan kita untuk menghubungi keluarga dan sahabat kapan saja tanpa harus bertemu secara langsung. Sebuah pesan singkat, panggilan telepon, atau sekadar menanyakan kabar dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan yang mungkin mulai renggang. Namun kemudahan tersebut hendaknya digunakan untuk memperkuat ukhuwah, bukan untuk menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Pada akhirnya, silaturahmi adalah investasi kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal di akhirat. Hubungan yang baik dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan sesama muslim akan menciptakan kehidupan yang penuh kasih sayang, saling mendukung, dan harmonis. Oleh karena itu, jangan biarkan kesibukan, perbedaan pendapat, atau kesalahpahaman merusak tali persaudaraan yang telah terjalin.

Mari kita menjadi pribadi yang senantiasa menjaga silaturahmi, menghubungi terlebih dahulu, memaafkan lebih dahulu, dan menyambung kembali hubungan yang sempat terputus. Karena di balik setiap silaturahmi yang terjaga, terdapat keberkahan hidup, keluasan rezeki, dan ridha Allah SWT yang selalu kita harapkan.